Kasus penyakit Avian Influenza (AI) subtype H5N1 atau flu burung pernah menyerang ribuan ayam kampung dan ayam ras di Lombok Timur pada tahun 2004 yang lalu. Kasus penyakit ini awalnya terkonsentrasi di dua Kecamatan yaitu : Kecamatan Masbagik dan Kecamatan Pringgasela. Tanda-tanda flu burung yang terlihat pada saat itu adalah kepala bengkak dan kebiruan, vial dan jengger kebiruan keluar ingus, pada bagian badan dan kaki ada bercak darah, lemah ,lumpuh dan terjadi kematian. Disamping itu juga banyak dijumpai kematian unggas secara mendadak tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis.
Sejarah datangnya kasus Flu Burung dimulai ketika banyaknya pengiriman ayam petelur afkiran yang berasal dari Jawa timur dan Bali ke Lombok Timur yang terpusat di Masbagik (2003-2004). Hal ini berlangsung karena harga penjualan di Lotim sangat tinggi dibandingkan dengan di daerah asal sehingga banyak supplier ayam yang tergiur untuk meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya . Untuk menghindari hal-hal yang timbul dari penyakit mematikan yang dapat menular ke manusia tersebut, Gubernur NTB segera mengeluarkan larangan pemasukan unggas hidup (afkir) dari luar daerah.
Oleh karena itu Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur telah melakukan tindakan dalam rangka pencegahan penyebaran penyakit AI, dengan melakukan sosialisasi di dua Kecamatan tersebut dan kecamatan lainnya yang ada di Lotim. Kegiatan yang dilakukan berupa vaksinasi, biosecurity,public awareness dan monitoring. Sampai saat ini kejadian flu burung relative kecil (low incident) tetapi tetap harus diwaspadai karena masih ada ayam yang mempunyai sifat “carier/reservoir” yaitu berpotensi menularkan ke unggas lainnya dan ini bisa dilihat pada hasil uji laboratorium BBV Denpasar beberapa waktu yang lalu yaitu :22 ekor (+) positif Flu Burung di Desa Lendang Nangka dan Jurit.
Disamping itu juga Distannak telah memiliki 2 orang tenaga PDSR (Partisipatory Disease survaillence response) yang telah dilatih FAO dan bersertifikat nasional yaitu Drh.H. Achsan Nasirul Huda dan Drh. Taufik Eko Budiyanto . Yang bertugas khusus melakukan kegiatan survei,merespon, monitoring dan menentukan status penyakit pada suatu wilayah yaitu : tertular, suspek 14,terkendali dan tampak bebas .Dalam kegiatan ini banyak dibantu oleh petugas medik dan paramedik veteriner yang ada di setiap Puskeswan kecamatan. Diharapkan dalam 3-5 tahun kedepan ke 119 desa yang ada di Lombok Timur dapat terbebas dari penyakit Flu Burung. (drh.Achsan NH)