Kamis, 10 September 2009 07:43:35 - oleh : achsan
Distannak "Ganyang" Flu Burung

Kasus penyakit  Avian Influenza (AI) subtype H5N1 atau  flu burung  pernah menyerang ribuan ayam kampung dan ayam ras di Lombok Timur pada tahun 2004 yang lalu. Kasus penyakit  ini  awalnya terkonsentrasi di dua Kecamatan  yaitu : Kecamatan Masbagik  dan Kecamatan Pringgasela. Tanda-tanda flu burung  yang terlihat pada saat itu  adalah  kepala bengkak dan kebiruan,  vial dan jengger kebiruan  keluar ingus, pada bagian  badan dan kaki  ada bercak darah, lemah  ,lumpuh dan terjadi kematian. Disamping itu juga  banyak dijumpai  kematian unggas secara mendadak tanpa menunjukkan   tanda-tanda klinis. 

 

Sejarah datangnya kasus Flu Burung dimulai ketika banyaknya pengiriman ayam petelur afkiran yang berasal dari Jawa timur dan Bali ke Lombok Timur yang terpusat di Masbagik (2003-2004). Hal ini berlangsung karena harga penjualan di Lotim sangat tinggi dibandingkan dengan di daerah asal sehingga banyak supplier ayam yang tergiur untuk meraih keuntungan yang sebanyak-banyaknya . Untuk menghindari hal-hal yang timbul dari penyakit mematikan yang dapat menular ke manusia tersebut, Gubernur NTB segera mengeluarkan larangan pemasukan unggas hidup (afkir) dari luar daerah.

 

Oleh  karena itu  Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Timur telah melakukan   tindakan dalam rangka  pencegahan  penyebaran  penyakit  AI, dengan  melakukan  sosialisasi di  dua Kecamatan  tersebut dan kecamatan lainnya yang ada di Lotim. Kegiatan  yang dilakukan berupa  vaksinasi,               biosecurity,public awareness   dan monitoring. Sampai saat ini  kejadian  flu burung  relative kecil (low incident) tetapi tetap harus diwaspadai karena masih ada ayam yang mempunyai sifat “carier/reservoir” yaitu berpotensi menularkan ke unggas lainnya dan   ini bisa dilihat  pada   hasil  uji laboratorium BBV Denpasar beberapa waktu yang lalu  yaitu :22 ekor (+)  positif Flu Burung  di Desa Lendang Nangka dan  Jurit.

 

 Disamping  itu juga  Distannak telah  memiliki  2 orang  tenaga PDSR (Partisipatory Disease  survaillence response) yang telah dilatih FAO dan bersertifikat nasional yaitu  Drh.H. Achsan Nasirul Huda  dan  Drh.  Taufik Eko Budiyanto . Yang bertugas  khusus melakukan kegiatan  survei,merespon, monitoring dan  menentukan   status penyakit pada suatu wilayah    yaitu  :  tertular, suspek 14,terkendali dan tampak bebas .Dalam kegiatan ini banyak dibantu oleh petugas medik dan paramedik veteriner yang ada di setiap Puskeswan kecamatan.  Diharapkan  dalam  3-5  tahun  kedepan  ke 119 desa yang ada di Lombok Timur dapat terbebas dari penyakit  Flu Burung. (drh.Achsan NH)